//Umi… Kutuk Aku Umi..
Dian Ismi Islami

Umi… Kutuk Aku Umi..

1

 

“Perjuangan 20 Hari Mengantar Anak Masuk GONTOR”

Banyak yang meminta saya menulis pengalaman memasukkan anak ke GONTOR, bukannya tidak mau menulis, tetapi ketika menulis banyak sekali gangguannya, ini saya tulisan yang ketiga dari dua tulisan sebelumnya yang hilang, karena menulis sambil momong anak-anak, mengerjakan tugas dan setumpuk kerempongan ema2 empat anak,semoga selesai tulisan ini dan tidak ada yang terlewat.

Memutuskan anak masuk GONTOR bagi saya dan suami merupakan hasil diskusi panjang dan jawaban doa yang kami panjatkan untuk diberikan sekolah yang terbaik buat anak-anak kami.

Ketika anak pertama kami kelas 1 SD, kami sudah mendiskusikan sekolah lanjutan anak kami mau kemana, suami sudah kekeh akan memasukkan ke pesantren tapi belum menyebut GONTOR pada saat itu, saya sendiri terbersit ingin memasukkan anak ke SMP negeri atau SMP swasta favorit dengan alasan akan belajar ilmu umum lebih banyak sehingga lebih mudah masuk perguruan tinggi negeri.

Seiring berjalannya waktu, merenungi lingkungan sekitar dengan pengaruh era teknologi yang menggila, memperhatikan lulusan pondok dan bukan pondok dalam menyikapi hidup ini, akhirnya bulanlah tekat akan memasukkan anak ke pondok pesantren.

Mulailah mencari-cari pesantren yang tepat dan sesuai dengan keinginan dan tentunya sekemampuan kami, beberapa pesantren sudah kami survei, belum ada yang cocok, sampai pada saat anak pertama kami kelas 5 SD, nama GONTOR sudah mengisi di rumah kami, lantunan nasyid GONTOR hampir setiap hari kami dengar, kabar kualitas lulusan GONTOR tanpa kami minta, masuk dalam file file otak kami.

Hingga liburan semester Desember 2017, kami di beri kesempatan waktu, kesehatan, dana dll untuk survei langsung ke GONTOR. Melihat langsung pelayanan dan fasilitas GONTOR. Ketika kami bertanya-tanya tentang GONTOR maka yang melayani kami santri GONTOR sendiri, disitulah memang keistimewaan GONTOR, seluruh santri ada kesempatan untuk praktek langsung, kegiatan dari mulai bersih-bersih sampai keuangan santri semua yang mengurusi.

Ketika survei sudah ada gambaran bahwa tidur di GONTOR hanya beralaskan kasur lipat di bawah, setrika menggunakan arang, tidak ada transfer dalam transaksi keuangan, melainkan menggunakan wesel. Waw….sempat terfikir hari gini….gitu lho…tapi ternyata di situlah proses pembelajaran kesederhanaan yang di ajarkan GONTOR.

Setelah beberapa hari menginap di GONTOR, anak pertamaku minta dikutuk untuk masuk Gontor, semakin mantab dan bulatlah tekat kami memasukkan si sulung ke GONTOR Putri.

Beberapa bulan kemudian lulus SD lah si kakak dengan mengantongi nilai yang memuaskan dan bisa memasuki sekolah pavorit di kota kami, namun karena keinginan kami untuk lanjut ke GONTOR maka Mulailah kami untuk menyiapkan persyaratan dan perlengkapan masuk GONTOR, karena kelulusan bertepatan dengan bulan Ramadhan, dimana sudah menjadi kebiasaan masyarakat Jakarta, seluruh aktivitas akan terhenti ketika memasuki 7 hari menjelang idul Fitri, maka kami mempersiapkan persyaratan administrasi sebelum orang-orang pulang kampung.

Berbekal pengalaman survei, kami memutuskan untuk membeli tenda sebagai alternatif tempat tinggal kami disana, walau kami berkeinginan mendapatkan tempat tinggal di wisma GONTOR, hal ini lah yang menjadi alasan kami datang lebih dahulu, tepatnya 1 Syawal sore, walau kami pesimis akan mendapatkannya karena sudah terbayang di benak kami, banyak orang-orang yang datang lebih dahulu dari pada kami, karenanya kami hanya berharap minimal mendapatkan sewa di gazebo. GONTOR memberlakukan aturan, siapa cepat dia dapat, tidak ada booked via telpon, tidak pandang bulu, orang penting sekalipun jika tidak datang terlebih dahulu maka tidak bisa merasakan tidur dan bermalam di wisma.

Pada tanggal 1 Syawal, selepas berlebaran dengan saudara terdekat melajulah mobil kami menuju GONTOR. Ada kemacetan yang kami temui di sekitaran Bekasi, kami pun merasakan tol fungsional yang baru diresmikan oleh Presiden Jokowi.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 jam, sampailah kami di GONTOR, langsung menuju ke kantor penyewaan wisma atau gazebo. Ketika saya datang, sudah ada ibu muda juga sedang menunggu, karena kantor baru akan di buka pukul 1 siang, saat itu saya tiba pukul 12.30. Terjadilah obrolan saya dengan ibu tersebut sekaligus terjadi persaingan memperebutkan wisama😁😁😁, dalam hati saya “..walah kalau wisama ada yang kosong pasti ibu ini yang dapat duluan karena beliau yang datang lebih dulu…”.

Walau di depan pintu kantor tersebut sudah ada tulisan wisma penuh, tetap saja saya dan ibu tersebut berharap ada yang kosong. Di tengah tengah percakapan saya dengan ibu tersebut datang lagi, seorang kakek, yang juga mengincar wisma, kakek tersebut mengatakan “..saya sudah dari jam 12 disini” sepertinya perkataannya ingin memberikan kode pada kami bahwa ia lebih dahulu antri dan jika ada kamar kosong, maka saya lebih dahulu yang mendapatkannya. Mereka sudah mengatakan keinginannya mengincar wisma, maka saya katakan saya pada mereka bahwa saya mau menyewa gazebo saja kalau ada yang kosong.

Tepat jam 1 siang ruang kantor dibuka, petugas langsung mengatakan bahwa tidak ada kamar yang kosong, tapi hanya ada 1 gezebo yang tersisa, langsunglah saya mengatakan “..buat saya saja” akhirnya saya mendapatkan kunci gazebo dengan meninggalkan KTP sebagai jaminan.

Setelah sampai di gazebo, kami segera beberes perlengkapan yang kami bawa dan memasang tenda di halaman depan gazebo.

Hari ke 3 Syawal kegiatan yang kami lakukan adalah berenang, karena memang pendaftaran di GONTOR baru akan di mulai tanggal 5 Syawal. Di GONTOR itu harus sering berbincang2 dengan orang yang kita temui karena entah dari orang yang mana kita akan mendapatkan informasi terbaru. Seringnya kami mengobrol dengan orang-orang yang kami jumpai, maka kami jadi tahu bahwa di tanggal 4 Syawal sudah mulai pendaftaran tes kesehatan yang hasilkan akan di gunakan untuk mendapatkan formulir masuk GONTOR, info ini pun kami sampaikan kepada orang tua wali santri yang kami temui.

Bayangan ramainya orang sudah kami dapati dari obrolan obrolan, mulailah kami menyusun strategi untuk pendaftaran besok. Siapa yang mendaftar bersama si sulung, siapa yang menjaga anak anak yang lain, karena kami juga membawa 3 orang adiknya yang paling kecil berusia 1,5 tahun.

Singkatnya kami dapat urutan 93 untuk kesehatan, yang terdiri dari tes urin dan tes berat badan juga tinggi badan. Itu pun dapat urutan 93 karena diberikan nomer oleh tetangga di gazebo. Nomor urut yang kami dapati 115 an. Sebut saja keluarga Nadya yang memberi kami nomer antrian untuk tes kesehatan, karena nanti ada cerita tersendiri yang bisa kita kita ambil pelajaran dari keluarga Nadya ini, saya akan menceritakan nanti tersendiri.

Tes kesehatan selesai, maka susun lagi strategi siapa besok yang menemani ambil formulir, terbayang mandi yang antri dan buanyak orang serta bayi yang perlu di urus menjadi pertimbangan kami.

Di tanggal 4 Syawal, kami juga dimintai oleh panitia yakni santri-santri yang bertugas untuk segera meninggalkan gazebo dan pindah ke aula area kemping milik GONTOR, gazebo akan di gunakan wali santri lama, sempat terfikir, saya karena bawa bayi dan anak yang masih kecil akan menggangu calon wali santri yang lainnya dengan ulah anak kami, terfikir juga bagaimana jauh membeli makanan jika harus jalan dari aula kemah ke luar gerbang GONTOR yang jaraknya jika kita jalan dengan membawa anak-anak sekitar 30 menit baru sampai.

Dengan tanpa banyak bertanya dan hanya berbekal pemberitahuan dari orang tua Nadya, bahwa apapun yang di arahkan santri-santri tersebut wajib kita ikuti, jika melawan atau tidak patuh, maka ada kemungkinan anak kita tidak di luluskan, dengan alasan orangtua tidak mau ikut aturan pondok. Maka kami turut saja pindah ke aula area kemping, setalah kami pindah, malah kami mendapati area kemping tersebut lebih dekat dengan pendaftaran dan kami berada di wilayah dalam GONTOR, GONTOR juga sudah memikirkan masalah makan, di sediakan warung tempat beli makanan berat atau ringan, ada tempat nongkrong dan ada lapangan luas sekali tempat anak- anak kami bermain.

Jam 5.30 pagi di tanggal 5 Syawal, kami sudah siap untuk mendapatkan. Formulir. Ternyata panitia mengatakan ” formulir akan dibagikan setelah siswa dan orangtuanya mengikuti orientasi tentang GONTOR, dengan syarat pula membawa hasil tes kesehatan yang telah dilakukan di balai kesehatan milik GONTOR”

Setelah lama menunggu sekitar jam 8, acara pun di mulai, calon santri duduk di kursi paling depan, sedang orangtua boleh duduk di kursi bagian belakang. pengenalan GONTOR, pembagian formulir di ruang aula. Pengisian formulir dilakukan di luar aula dengan ketentuan siapa cepat mengisi bisa langsung cek berkas.

Ketika pengisian identitas peserta didik, perasaan bercampur aduk karena sudah banyak berkumpulnya calon siswa di area aula tersebut, keinginan buang air kecil dan besar terjadi pada saya dan si sulung, belum lagi dua adik laki-lakinya yang aktif-aktifnya membuat keadaan semakin memanas.

Selesai dari kamar kecil saya menghampiri suami yang sedang menjaga si bungsu dan menjaga barang barang bawaan kami, sedang si sulung masih di kamar mandi, karena suasana yang sudah semakin siang dan pendatang semakin bertambah banyak antrian pemeriksaan berkas juga semakin padat, maka saya memutuskan untuk membawa berkas ananda dan ikut mengantri di area pemeriksaan.

Tetapi apa yang terjadi, foto ananda tercecer, jadilah saya sibuk mencari foto tersebut, mundar mandir di keramaian orang. Sebenarnya kami sudah menyiapkan pas foto yang lebih untuk ukuran foto 2×3 dan 3×4, sedang untuk ukuran 4×6 pas fotonya tidak berlebih. Panitia menyediakan sarana untuk foto di sana dan tidak perlu lama menunggu untuk jadi pas fotonya, hanya lima menit saja, maka ananda pun berfoto ulang, tetapi setalah urusan berfoto selesai kodarullah foto yang hilang di temukan suami saya.

Suami pun mengatakan kalau saya tidak taat padanya makanya kejadian ini terjadi, suami tidak menginginkan saya mengantri terlebih dahulu sebelum anak kami tiba dari toilet, tapi karena saya berfikir hanya antri saja, toh nanti juga sebelum berkas di periksa si kakak sudah datang. Inilah pelajaran pertama di Gontor tentang arti keridhoan, ketaatan dan kelapangan hati semuanya. Tetapi dengan kehilangan foto ada ibroh (pelajaran) yang kami dapatkan tentang kesungguhan anak kami untuk dapat menembus GONTOR, ketika foto hilang, terlihat sekali kekecewaan si kakak takut tidak bisa lulus administrasi masuk GONTOR, bahwa ada kesungguhan di dalam dirinya untuk bisa masuk GONTOR.

Selesai cek berkas, kamipun harus mengantri lagi di bagian pembayaran, karena waktu sholat dan istirahat tiba,maka semua pelayanan di tunda hingga jam 2. Menunggu dari jam 11 sampai jam 2 di GONTOR itu bukan waktu yang lama, karena luasnya area GONTOR, perjalanan dari tempat administrasi menuju tenda sudah kurang lebih 15 menit, sholat, istirahat sebentar makan nasi yang tadi pagi kami beli waktu sudah menunjukkan pukul 13.30, kami kembali untuk mengantri administrasi, sebelum mengantri lagi,kami sempat memesan gorengan dan minuman di kedai yang semuanya di layani oleh santri.

Sekitar jam 5 urusan administrasi si sulung selesai, sampai dapat kamar di ruang Bosnia 204, dengan no ujian 182. Si kakak harus pindah dari tempat tenda kami menginap ke pondoknya, selesai mengantar kakak, tidak boleh mengantar sampai ruang kamarnya,hanya boleh sampai halamannya saja sekitar jam 5.30 sore, sedang si kakak harus mempersiapkan diri juga untuk tes lisan pada jam 8 malam.

Perjuangan fisik dan emosi, dan akal yang benar-benar harus teruji. Untuk tes ujian lisan siswa sudah harus memakai seragam khas GONTOR, baju putih, rok hitam, jilbab neci segi empat dan sepatu pantofel, Alhamdulillah kami sudah mempersiapkannya di hari ke 4 Syawal.

Oh ya, di GONTOR punya peraturan untuk baju dan kerudung yang akan di kenakan santriwati GONTOR, seperti baju gamis yang tidak dari bahan kaos, gamis yang tidak terlalu lebar bawahnya (gamis berbentuk huruf A), gamis yang berkerut juga tidak di perbolehkan, kerudung segi empat yang mereka kenakan, bukan kerudung langsung (bergo), mukena pun harus memakai warna putih, bersajadah, tidak diperkenankan memakai Daleman leging. Hampir seluruh baju anakku tidak sesuai dengan aturan GONTOR, sehingga banyak yang harus kami beli baru.

Si sulung sudah di asrama, sudah ada perasaan sedikit lega, hanya tinggal menunggu ujian tulis di 15 Syawal. Selama menunggu itu kami isi dengan berbagai kegiatan, saya menyelesaikan tugas, anak laki laki saya main outbound yang tersedia di GONTOR, main hp, atau main bola di lapangan, suami siap siaga membantu, atau waktunya kami isi dengan mengobrol sesama orang tua calon santri, atau kami pergi keluar meninggalkan GONTOR ke tempat tempat rekreasi sekitar Ngawi,Sragen atau solo.

Ketika kami pergi keluar GONTOR, si sulung ternyata ada mampir ke tenda kami, kami sering mendapat surat dari si sulung yang inti isinya, dia sangat sayang pada keluarga, masih ada keinginan juga dalam dirinya untuk ikut bersama kami jalan-jalan, tapi karena peraturan dan padatnya aktivitas, maka ia tidak bisa mengikuti kegiatan kami, kami pun sebaliknya tidak bisa juga ikut kegiatannya.

Si sulung ada mengeluh tentang ketidak nyamanan setelah ia menginap satu malam di asrama pondok. Disinilah butuh peran orang tua untuk menguatkan anaknya, bahwa ada pendidikan dengan situasi yang kurang nyaman. Misal makanan yang kurang selera, tidak seperti di rumah, maka ada pelajaran di sana, bahwa anak harus menerima rejeki yang ada di hadapannya, mengenai kamar mandi yang kurang nyaman itu. Disini saya semakin faham bahwa peranan orang tua semakin dominan untuk menguatkan anak, jika orangtua mudah menyerah, anakpun akan mudah kalah oleh keadaan.

Satu hari sebelum tes tulis dilaksanakan, ba’da ashar seluruh calon santri di kumpulkan untuk mengikuti breafing dan pengenalan tempat ujian. Ujian tulis yang terdiri dari berhitung (matematika), bahasa indonesia, imla dan psikotes di laksanakan tanggal 15 syawal. Ada yang unik juga ketika ujian tulis di GONTOR, setelah siswa menuliskan nama dan nomor peserta ujian di jawaban, maka panitia akan menyobek kolam nama dan nomor ujian peserta tersebut diganti dengan kode yang hanya di ketahui oleh panitia pengawas, sedang panitia pemeriksa soal tidak akan mengetahui lembar jawaban siapa yang sedang ia periksa, hal ini di lakukan GONTOR agar tidak ada pilah pilih dalam hal penilaian, baik itu anak pejabat, ust atau kiai gontor sekalipun mendapat perlakuan yang sama.

Waktu pengumuman tiba…tepat 19 Syawal, parkiran mobil mulai penuh. Menurut data ada sekitar 2000 an mobil di parkiran, dengan hitungan kasar saya sekitar 10rb lebih manusia berkumpul disana, bayangkan saja santri yang mendaftar saja sudah 3149 jika di kalikan 2 (ibu dan bapak) belum di hitung yang bawa sanak keluarga lainnya, ditambah dengan santri lama.

Hari Pengumuman Masuk GONTOR Putri

Sekitar jam 3 pagi, ketika saya bangun di hari pengumuman kamar mandi sudah penuh, itupun sudah saya prediksi sebelumnya,, makanya saya mengambil langkah mandi di malam hari sebelum tidur, anak ke tiga saya yang biasanya selalu ikut kamanapun kami pergi juga saya ajak mandi di malam itu, pikir saya besok hanya tinggal si bontot yang saya mandikan pagi pagi, karena air kran sekitar aula sudah terbatas, malam itu juga saya menampung air di ember untuk si bontot mandi esok harinya.

Malam hari menjelang pengumuman kelulusan juga malam yang istimewa bagi orangtua wali santri yang saya amati, hampir semua orangtua khusu’ dengan ibadah dan panjatan doa agar anaknya lulus, hampir di setiap sudut saya mendapati malam itu suasana seperti malam malam ramadhan, dalam hati saya, doa orang tua kepada anaknya tak ada penghalang, semua doa orang tua calon wali santri GONTOR sedang berperang di langit memperebutkan kemenangannya esok hari. Tak lupa saya pun ikut dalam peperangan tersebut, karena memang hanya tinggal doa senjata kami.

Sekitar jam 5.30 para calon santri sudah berkumpul duduk di kursi yang di sediakan panitia di depan ruang aula pembagian formulir, ortu wali santri boleh mendampingi dengan duduk beralaskan tikar atau sejenisnya di sekitaran area aula tersebut. Acara di mulai di awali dengan pembukaan dari MC dan wejangan dari Kiai Hasan Abdullah Sahal yang bertemakan syukur, ceramah yang menarik dengan pembawaan yang asyik. Menurut beliau, inti dari acara pengumuman kelulusan ini adalah mendengarkan ceramah beliau, justru bukan pengumuman kelulusannya, oleh karena tidaklah di buat pengumuman kelulusan tersebut secara online atau tinggal dipanjang no ujian peserta didik yang lulus.

Selesai ceramah tibalah pengumuman. Pengumuman kelulusan di bacakan hanya nomor ujian peserta didik saja yang di sebutkan. MC mengarahkan agar setiap calon peserta didik yang di sebutkan nomornya tidak berteriak kegirangan, cukup mengatakan Alhamdulillah dalam hati saja, dan jika belum tersebut maka perbanyak dzikir dan doa.

Saat penyebutan nomer ujian yang masuk di GONTOR 1, ketika masuk diangka 150an hati saya semakin dag-dig-dug, ketika nomor 180 di sebut, lalu yang di sebut lagi no 184, wajah saya dan suami pun berpandangan dengan ekspresi kecewa penuh harap, yang ternyata nomor ujian putri kami tidak tersebutkan dalam pengumuman kelulusan di GONTOR Putri 1.

Di sebutlah sampai angkatan tigaribuan yang masuk ke GONTOR satu (saya kurang memperhatikan) tapi seingat saya nomor urut 1 dan nomor urut terakhir masuk di GONTOR satu, ada kabar burung juga yang menyebutkan no urut 1 dan terakhir pasti akan di terima di Gontor 1, Wallahu a’lam. Sepanjang penyebutan angka yang masuk di Gontor 1 saya hanya berdoa dan berdzikir, bayangan akan mencari cari sekolah alternatif juga sempat terbesit, bayangan harus mensupport kakak agar jangan kecewa juga terbesit, akhirnya seperti di doa doa saya bahwa apapun keputusan nya inilah takdir yang terbaik untuk anak saya.

Tibalah pada giliran pengumuman kelulusan GONTOR Putri kampus 2. Ketika di angka 150, perut mulai mules, dag dig dug dan penuh harap cemas, yang bahkan melebihi rasa cemas saat jelang melahirkan!

Alhamdulillah… kesebutlah nomer 182 nomer ujian Putri kami, spontan saya dan suami berpandangan dan mengucapkan Alhamdulillah dan sujud syukur bersama. Setelah itu  kami diskusi lagi apa yang harus di kerjakan setelah ini. Kami tidak mendengarkan pengumuman kelulusan sampai selesai, kami balik ke tenda, sujut syukur, kami berencana langsung membelikan buku buku sekolahnya dan seragam yang masih kurang serta peralatan yang kurang.

Subhanallah saya pribadi menjadi tak nafsu makan, karena perasaan yang bercampur aduk ditambah lagi dengan ribuan manusia di mini market yang sama sama memilih, mengantri untuk membayar barang barang yang dibeli. Ada sedikit rasa mual dan kelelahan pada diri saya, tapi karena kami memutuskan untuk pulang ke Jakarta malam ini juga, mau tidak mau kami harus menyelesaikan terlebih dahulu kebutuhan si kakak.

Setelah membeli barang kebutuhan kakak, suami datang dengan memberikan kabar bahwa Nadya tidak lulus, suami menceritakan bagaiman sedihnya ayah dan ibu Nadya ketika bertemu dengan suami saya menerima kenyataan anaknya tidak lulus, suami pun memahami betapa sedihnya karena Nadya sama sama dengan kami menginap di Gontor kurang lebih 20 hari.

Setelah beberes semua peralatan, kami antarkan kakak ke GONTOR 2, ketika kami tiba acara pembagian kamar sudah di mulai, alhamdulillah ketika kami datang tak lama di sebutlah nama kakak, ditempatkan di ruang Yerusalem 7, mengantarkan sampai ke kamar, lalu di ijinkan dan diperbolehkannya kakak Ihya keluar sekitar GONTOR untuk makan bersama kami dan sholat sampai sekitar jam 5 sore.

Ketika di masjid raya Ngawi kakak, mulai manangis lagi, sedih katanya akan berpisah dengan kami semua, kakak minta kami balik lagi ke GONTOR habis isya saja karena terakhir kalinya sebelum masuk ke asrama bersama sama tapi saya katakan “…kita masih harus urus administrasi kakak Ihya lho, belum lagi ada barang-barang yang harus di cari…” maka ia pun memberikan jawaban “…iya… kita segera balik lagi ke GONTOR”.

Sempat juga terjadi dialog antar saya dan kakak, ia menyampaikan bahwa ia sedih sekali dan membandingkan kalau saya pesantrennya dulu di Jakarta, maka saya katakan pada kakak “…toh yang pesantren di Jakarta juga tidak selalu bersama orangtua…”. Sebelumnya saya juga sudah menyampaikan padanya alasan2 kenapa kakak harus sekolah di pondok dan kenapa GONTOR yang dipilih”,walau di akhir pembicaraan kami, saya menawarkan dia untuk ikut lagi dengan kami ke Jakarta jika memang masih berat dan belum ikhlas untuk menempuh pendidikan di GONTOR, dengan penguatan dari saya dan suami, bahwa kita berpisah bukan karena ada masalah, bukan karena ada yang meninggal, dan jangan pernah kakak berfikir seperti yang orang lain katakan, bahwa menyekolahkan anak jauh jauh itu sama saja dengan membuang anak, kakak di sini kami antarkan baik baik, kami cukupi kebutuhannya, kami doakan agar memperoleh ilmu yang bermanfaat untuk masa depan kakak, Kaka sudah hebat bisa mengalahkan ribuan orang yang akan masuk GONTOR, seleksi dengan persaingan yang sempurna yang terjadi di GONTOR karena tidak ada prioritas atau tidak ada pilah pilih kecuali karena nilai dan akhlak. Setelah penjelasan panjang lebar saya kakakpun tak ingin lagi ikut kami ke Jakarta

Ternyata setelah bertanyata dengan beberapa ustadzah di GONTOR 2, baru di jelaskan bahwa setelah anak dinyatakan lulus dan di tempatkan di gontor1,2,3 atau 5, maka untuk keperluan ananda, orang tua diminta untuk membuka tabungan dan membayar (saya lupa apa saja yang di bayar) tapi nominalnya tidak terlalu besar sekitar 250 ribu kurang lebih

Kami bertemu lagi dengan kakak Ihya sebagai salam perpisahan, karena sudah sama sama sangat lelah saya meminta untuk tidak nangis karena akan membuat semakin lelah. Doa doa kami yang terbaik buat kakak Ihya.

Oh ya banyak juga yang bertanya pada saya, apa ga sedih ditinggal anak mondok ? Setiap orang tua pasti sedih ketika berjauhan dengan anaknya, sayapun ada menangis….tapi saya menangis di satu bulan sebelum keberangkatan kami untuk mendaftar ke GONTOR, di situ bayangan anak yang sedari kacil bersama kita dan kita urus sendiri, belum lagi si kakak adalah anak pertama kami, sehingga bantuannya sangat di butuhkan.

Bayangan saat bersama sama sudah tumpah dengan puas di malam hari ketika saya seorang diri dan tidak ada yang tahu, maka setelah puas menangis yang muncul dalam benak saya adalah bayangan jika si kakak tetap di rumah, toh waktunya juga akan lebih banyak bersama teman temannya karena usianya dunia pertemanan lebih dominan berpengaruh pada dirinya, bayangan ketakutan akan teman teman yang tidak sesuai dengan visi misi kami dalam mendidik, maka semakin kuatlah saya untuk memasukkan anak ke pondok pesantren.

Setelah melalui rangkaian panjang proses menjadi calon santri baru kami mengerti dan menyarankan bahwa :

  1. Saingan anak kita ketika akan mendaftar di GONTOR adalah
    (a) anak anak yang tidak lulus di tahun lalu dan akan mencoba lagi ikut ujian di tahun ini
    (b) anak anak lulusan SMP atau sederajat yang bekalnya sudah lebih dari sekedar anak lulusan SD
    (c) anak-anak yang ikut bimbel masuk GONTOR, apalagi yang bimbelnya intensif
    (d) anak-anak ustadz/kiai yang orangtua fasih dan faham ilmu agama yang lebih, dan mereka telah belajar dari orang tua mereka
    (e) Inilah urutan anak saya, yang tidak termasuk kategori sebelumnya.
  2. Jika tidak boleh di samakan dengan tanah haram, tetaplah berhati hati dalam berkata dan bertindak selama di GONTOR karena ilmu ke ikhlasan yang ada pada penghuni GONTOR bisa terasa dan merasakan perbuatan dan kata kita
  3. Bila tidak punya waktu luang lebih seperti kami (bisa menemani anak mendaftar sampai pengumuman) saya sarankan ikut program Pendampingan Pendaftaran Masuk GONTOR bersama PRIMAGO. Sebab, berdasarkan informasi yang saya peroleh dari walimurid lain yang ikut program tersebut, mereka amat sangat terbantukan dengan mengikuti program PRIMAGO tersebut, mengingat sebagian besar mereka terikat oleh kewajiban kerja dikantor mereka.
[Kisah Ibu Dian Ismi Islami | Dosen Universitas Moestopo Beragama Jakarta | Ciputat, 17 Juli 2018]

BACA JUGA :

  1. PRIMAGO Beri Beasiswa Anak Yatim Belajar ke GONTOR
  2. Mengenal Sistem Pendidikan di GONTOR

Yuk…Abadikan Harta Dengan Wakaf Tunai
Pembebasan Lahan Pesantren PRIMAGO

Rekening Wakaf Tunai Pesantren Yatim Primago

1

Comments

comments