//Mengenal Lebih Dekat, Sedikit dari Sistem Pendidikan Pesantren GONTOR
Tour bimbel PRIMAGO ke GONTOR

Mengenal Lebih Dekat, Sedikit dari Sistem Pendidikan Pesantren GONTOR

Pesantren, Learning Organization dan Living Religion

bimbelPRIMAGO.com | Perjalanan kali ini begitu dahsyat. Melihat, merasakan, mendengarkan, mengalami, merenungi, dan menghayati dinamika ijtihad pendidikan Pesantren Gontor dari berbagai kacamata. Dari kacamata kuda hingga kacamata batin yang mampu membelah sekat-sekat kebodohan diri dan meneguhkan keyakinan, bahwa kebebasan berpikir hanya boleh dilakukan oleh mereka yang tinggi budinya, sehat jiwa dan raganya, serta luas pengetahuannya.

Artinya, jika referensi keilmuan kita sebatas infomasi dari internet, media sosial, share WhatsApp Group, dan sejenisnya, maka kita akan sangat susah untk mengkonfirmasi kebenaran ilmu yang didapat. Jangankan mengkonfirmasi, berpikir logis yang paralel dengan kebenaran nash-nash agama saja akan sangat sulit. Jika mental kita adalah “tukang curiga”, maka akan semakin jauh dari ilmu, dan semakin jauh untuk mandiri dalam berpikir. Curiga beda dengan rasa ingin tahu tentunya. Cara mengukurnya mudah, emosionalkah kita ketika membaca tulisan atau buku tertentu? Atau segera mengecek dan mengkonfirmasinya dengan berbagai pendapat dan rujukan buku lain. Lantas menentukan bagaimana cara terbaik dalam menyikapinya.

Itu saja belum cukup, untuk mandiri dalam berpikir dibutuhkan keikhlasan dalam berjuang, kesederhanaan dalam berlaku, kemandirian dalam hidup, serta perekat persaudaraan dalam agama dan dalam kemanusiaan yang maha luas. Dan itu semua tidak mudah, harus rela didengki dan dicibir. Istilah Kiai Syukri Zarkasyi, orang itu bergerak ke kanan dikritik, bergerak ke kiri dikritik, bahkan tidak bergerak sama sekali tetap dikritik. Untuk menuju itu tentulah sangat sulit, apalagi makhluk bodoh dan bebal yang perlu belajar terus menerus seperti saya ini. Sulit!

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan kemandirian berpikir. Dalam memori santri, dibenamkan mesin aplikasi super canggih agar otaknya rakus terhadap ilmu pengetahuan. Tidak puas dengan hanya satu pandangan, dua pendapat, tiga buku, empat guru, akan tetapi rakus membaca ber-terabyte file ilmu yang tersebar di seantero jagat. Alam terbentang dijadikan guru. Agar tidak mudah melabeli diri, apalagi melabeli orang lain dengan kata-kata rendah, seperti “bodoh”, “sesat”, “bid’ah”, “kafir’, dan sejenisnya.

Sebagai lembaga yang menciptakan manusia-manusia mandiri, pesantren merupakan institusi supra-mandiri dalam segala hal. Jika tidak mandiri maka bukan pesantren, melainkan lembaga pendidikan sosial biasa. Dalam hal ini, ada salah dua pelajaran mahal yang saya dapatkan dari pesantren Gontor dalam perjalanan kali ini. Pertama adalah ‘Learning Organization’, dan kedua adalah ‘Living Religion’. Dua ilmu ini saya serap dari para masyayikh yang saya temui, dan para kiai yang tidak saya ragukan lagi kedalaman ilmunya.

Gontor Living Religion

Saya bahas yang kedua dulu. Bagi Gontor, perbedaan pendapat atau khilafiyah adalah hal yang kuno. Jika ada santri atau guru yang memperdebatkan hal ini, maka ia dianggap ketinggalan jaman 1000 tahun. Sebab perdebatan-perdebatan dalam masalah keagamaan sudah dibahas ribuan tahun lalu oleh para ulama pendahulu. Melahirkan berjilid-jilid buku yang membahas fiqih dan kalam.

Tempat Belajar Bisnis Online & Internet Marketing Jarak Jauh / Dari Rumah Terbaik di Indonesia

Agar santri tidak terperangkap dalam perdebatan pendapat, maka dibekali berbagai disiplin ilmu yang lahir dalam tradisi intelektual Islam. Dari mulai ilmu alat bahasa dasar, nahwu, shorof, hingga balaghoh yang mencakup badi’, ma’ani, dan bayan. Dalam fiqih, santri dibekali dasar-dasar fikih praktis, hingga fikih empat madzhab menggunakan kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibnu Rusyd.

Selain itu, santri-santri juga dibekali ilmu Al-Adyan, agar mengetahui agama-agama yang ada di dunia, baik agama langit maupun agama bumi buatan manusia. Jika sudah tahu, maka akan mudah membedakan mana yang benar mana yang salah, serta mengerti ciri dan sifat ajaran masing-masing agama. Semua itu sebagai bekal santri dalam berdakwah, agar memiliki wawasan yang luas dan memilih metode yang tepat dalam mengajak umat manusia untuk menyembah Tuhan Yang Esa, memeluk Islam dengan sebaik-baiknya iman. Bukan dengan cara paksa-memaksa dalam bentuk debat kusir, apalagi saling mengejek antar agama.

Maka, di Gontor tidak boleh ada perdebatan. Tidak ada suara mayoritas dan suara minoritas. Semua harus dimusyawahkan. Jika Imam qunut subuh, maka jamaah ikut qunut. Jika Imam tidak qunut, maka makmum pun tidak qunut. Tidak ada tirani mayoritas, apalagi tirani minoritas. Semua ajaran agama Islam dipelajari dan diamalkan, bukan diperdebatkan, itulah “Living Religion”. Agama yang hidup dan menghidupi. Tidak statis dan kaku, sedikit-sedikit bid’ah. Bahkan standar boleh dan tidaknya bukan dalil, tapi “Musyawarah”. Lebarannya kapan? Ikut NU atau Muhammdiyah? Jawabannya Musyawarah. Pakaian santri yang baik seperti apa? Musyawarah, mana yang sesuai fungsinya. Patokannya sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Persis gaya Rasulullah, sederhana apa adanya.

Karena pengamalan agama lebih kental dari sekedar teori, maka kehidupan beragama di Gontor begitu luwes. Syi’ir Abu Nawas yang tidak ada dalilnya, dilantunkan lima kali setiap sebelum sholat fardhu. Terlebih waktu menjelang maghrib, syi’ir ini dilantunkan merdu dari menara masjid, menghipnotis warga pondok untuk lebih dekat dengan Rabb-nya. Agama hadir sampai relung hati yang paling dalam, menghidupkan spirit religius bagi yang larut dalam syi’ir yang menyihir ini.

Gontor Learning Organization

Hal kedua yang saya bahas adalah ‘learning organization’. Gontor adalah lembaga pendidikan yang menerapkan konsep belajar dengan praktek langsung. Semua mata pelajaran dalam kurikulum tidak dipelajari mendaki-daki secara teoritis. Belajar bahasa, sedikit teori banyak praktek. Belajar fikih, praktek dulu baru teori. Belajar muamalah, muasyaroh, organisasi, teknologi, sampai urusan seni musik, tidak banyak teori, akan tetapi menerapkannya langsung. Maka di sini tidak ada istilah kesempurnaan hasil, yang ada adalah kesempurnaan proses. Proses menjadi tumpuan utama dalam pendidikan.

Bermodalkan kemauan yang kuat dan kemampuan seadanya, Gontor menjadi raksasa pendidikan di Indonesia yang memiliki segala fasilitas pendidikan super lengkap untuk memicu dan memacu bakat-bakat santri. Uniknya, semua fasilitas itu muncul dari inisiatif santri yang terorganisasi.

Baca Juga : Lowongan Mengajar Khusus Alumni Gontor Seluruh Indonesia

Mengapa unik? Karena santri mempunyai daya belajar super cepat. Jika hari ini santri diajari fotografi, maka tahun depan mereka mampu membuat studio sendiri. Jika hari ini diajari film, maka tahun depan mereka membuat film, video klip, iklan, dll., bahkan mampu membuat studio editing film. Jika hari ini diajari drum band, maka tahun berikutnya mereka mengikuti kompetisi marching band.

Bahkan pada level guru, mereka yang lulusan ilmu ushuludin dan tarbiyah mampu mempelajari dengan cepat ilmu kontruksi bangunan. Hampir semua gedung bertingkat di Gontor, dibangun dengan ilmu membangun seadanya. Akhir-akhir ini pondok mendatangkan ahli dalam bidang kontruksi, dengan mental pembelajar mereka merekam dan belajar secara cepat. Bahkan bisa mengevalusi pemborosan yang dilakukan para pemborong proyek tersebut.

KH Hasan Abullah Sahal, KH Syamsul Hadi Abdan, Muhammad Afthon Lubbi
Penulis dan KH Hasan Abdullah Sahal, KH Syamsul Hadi Untung

Learning Organization adalah organiasi yang terlatih dalam menciptakan, meraih, dan mengubah pengetahuan dan informasi, serta memperbaiki sikapnya untuk menceminkan pengatahuan dan cara pandang baru. Ada tiga fase yang dilakukan Gontor dalam menciptakan budaya ‘learning organization’ ini.

Fase pertama, segala bidang berkonsentrasi dalam meningkatkan proses kerja (Improve work process). Bagian pendidikan atau KMI mengadakan pelatihan-pelatihan dalam berbagai bentuk secara terencana dan kontinyu dalam meningkatkan kemampuan pemahaman materi dan penguasaan pedagogik guru. Bagian pengasuhan santri memperbanyak pelatihan-pelatihan organisasi santri dan menjaga program-program rutin yang membentuk karakter santri. Dalam fase ini, muncul konsep ‘Keizen’, TQM, dan konsep-konsep lain untuk meminimalkan hambatan dan keterbatasan.

Fase kedua, Gontor memfokuskan para gurunya untuk meningkatkan bagaimana cara bekerja (improve how to work). Improvisasi ini mengembangkan cara berpikir seluruh guru untuk berpikir dinamis dan sistematis dalam memecahkan masalah yang kompleks dan mengandung konflik.

Fase ketiga, menananamkan kedua fase sebelumnya kepada setiap level organisasi dari yang terkecil di kamar-kamar, asrama, hingga tingkat pengambil kebijakan tertinggi, dengan sistem kaderisasi. Fase ketiga inilah yang paling sulit dilakukan lembaga lain. Dimana penanaman pemahaman nilai, visi, dan misi perjuangan dilakukan sejak sedini mungkin dan berkelanjutan. Paling besar prosesinya adalah dalam acara Pekan Perkenalan Tahunan bagi seluruh warga pondok. Sisanya dilakukan setiap hari di lini-lini pondok.

Alhamdulillah, hari ini begitu luar biasa, berkeliling Gontor dan menyerap ilmu dari para senior. Dan paling indah, mendapatkan kesempatan meninjau proyek menara masjid Gontor bersama Kiai Hasan Abdullah Sahal dan Kiai Syamsul Hadi Untung. Melihat kampus Gontor dari atas Menara tertinggi. Jika dilihat dari atas, maka terlihat apa dan bagaimana itu Gontor. Wallahu A’lam.

Gontor, 25 Desember 2017.
[Ditulis Oleh : Ust. Muhammad Afthon Lubbi]

Comments

comments